COBA ketikkan kalimat "fashion blogger Bandung"
di mesin pencari Google. Dalam hitungan detik, aneka laman yang merujuk pada
nama Marylies muncul sebagai directory.
Dengan puluhan ribu pengikut (follower)
di jejaring sosial Instagram, mojang Bandung yang satu ini tahu benar cara
memanfaatkan celah di tengah hiruk pikuk media sosial yang kadang terasa
absurd.
RABU
(13/5/2015) siang,
Marylies ditemui di sela sela kesibukannya mempersiapkan butik "keroyokan"
bersama empat temannya di kawasan
Cigadung Raya Tengah, Kota Bandung.
Perempuan kelahiran Bandung, 15 Maret ini terlihat syar'i dengan
dress wanita warna hitam rancangan tangnnya sendiri. Selain desainer. Marvlies adalah model.
fashion stylist, specialist fashion blogger: "Semua yang dilakukan sekarang memang benar-benar
merupakan passion yang aku simpan sejak dulu. Rasanya sangat menyenangkan bisa
menjalani profesi yang disukai," ucap Marylies mengawali perbincangan.
Lewat kalimat tersebut, ia seolah ingin
menegaskan, jauh lebih enak melakoni hal yang dicintai ketimbang mencintai
ha1 yang dilakoni. Bungsu dari lima
bersaudara putri pasangan (alm.) Rusmana
dan Yayah Juariah (60) itu
memiliki pembawaan yang menyenangkan. Waktu terus cepat bergulir saat
berbincang dengan perempuan yang baru tiga bulan melepas masa lajang. Hobi yang
suka mengobrol yang dimilikinya sejak
kecil. diakui Marvlies. menjadi awal dari semua hal baik yang tejadi kepadanya.
Saat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, mojang yang akrab
disapa Mary ini sudah senang tampil Dia selalu memiliki wrencanaan busana apa
yang akan dikenakannva seminggu kedepan oleh beberapa temannya, Marielys
dijadikan role model untuk urusan tarnpil trendy dengan hijab.
Marylies semakin menemukan
ketertarikan dengan fashion saat bergabung dengan Hijabers Community. Saat
salah satu agency di Jakarta menawarinya menjadi model muslimah, tentu saja ia menyanggupi.
Pemilik tinggi badan 172 cm dan
berat badan 50 kg itu melakoni profesi
sebagai model lepas sambil menyelesaikan kuliah.
Oleh beberapa brand di berbagai
kesempatan, Marylies juga dipercaya menanggung tugas sebagai fashion stylist. Dia bahkan dipercaya menjadi fashion stylist
salah satu majalah fashion muslimah ibu kota. "Mungkin karena aku lima
bersaudara dan semuanya perempuan, aku jadi sering melihat gaya berbusana kakak
kakakku. Semua punya gaya masing-masing.
Nah di situ aku jadi belajar mix and match,"
ujarnya. Dunia maya ' Ihwal
perkenalan intens Marylies dengan dunia maya terjadi medio 2011, saat ia tergabung dalam Hijabers
Community. Ia berkenalan dengan
banyak anggota yang juga merupakan
fashion bloqqer.
Marylies kemudian memanfaatkan fasilitas
gratis dari Blog spot ntuk memulai perjalanan blognya, saking semangatnya, ia
sempat membuat beberapa blog yang memuat pemikirannya sod fashion. "Awalnya
ya karena suka mengobrol. Daripada nulis geje (tidak jelas-red.), mending
berbagi sod fashion. Dulu rajin banget nulis, sekarang mah waduh, mana sempat,"
ucap Marylies, diikuti tawa renyah. Untuk menyiasatinya, Marylies
hijrah ke jejaring sosial Twitter. Lewat 140 karakter, ia memberikan aneka tips dan kultwit mengenai
fashion. Di Twitter, banyak umpan balik yang didapatkan. Marylies membutuhkan banyak waktu untuk merespons
semua pertanyaan yang dialamah kepadanya. Tentu saja, semua
berbicara mengenai fashion.
Hingga tahun lalu, Marylies
memiliki 3.567 follower. Namun,
ia merasakan twitter sekarang tak lagi senyaman dulu. Dia merasa, banyak orang
yang menjadikan Twitter sebagai ajang menumpahkan kekesalan. Moment asik yang
biasanya didapatkan saat berbagi dan berselancar ditwitter pun tak lagi didapatkan.
Marylies tercatat terakhir
memperbarui akun Twitternya satu
tahun lalu. Jejaring sosial Facebook juga sempat ia gunakan. Kuota 5.000 teman sudah pasti tak cukup
buatnya. Hingga terakhir ia menutup akun,
masih ada ribuan kontak yang ingin menjadi teman.
Marylies kemudian hijrah ke Path
dan Instagram, seperti anak muda kebanyakan. Akan tetapi, kini ia lebih memilih aktif di
Instagram karena lebih simpel. Ia memiliki lebih dari 20.000 follower. Di Instagram, Marylies sering kali berbagi
inspirasi penampilan yang dilabeli tagar
OOTD (ouffit of the day), keseharian dengan teman-teman dan keluarga, hingga
membantu aneka brand local untuk memasarkan produknya.
Lalu, adakah haters atau hal-hal
yang mengganggu keasyikan Marylies dengan dunia maya?
Haters sih alhamdulillah enggak
ada, dan jangan sampai ada. Kalau spam sih banyak banget, ganggu juga. Terus terkadang
suka ada follower yang menacari celah kekurangan saya, tapi ya cuek aja.
Soalnya, apa pun yang kita lakukan pasti ada saja kekurangannya di mata
orang lain," tutur penyuka
sepatu dan majalah ini
sambil
tersenyum.
PROMOSI GERATIS
Bagi Marylies, media sosial tak
hanya sebatas sarana untuk menumpahkan rasa senggang atau memanfaatkan waktu iseng. Dia juga tak menampik banyak
element yang membuat media sosial menjadi kurang sehat. Marylies mengistilahkan
itu dengan pengguna smartphone yang kurang smart.
"Kalau aku realistis saja,
selain lebih ke visual diary aku, juga membantu orang yang ingin promosi
produknya. Selama itu produk lokal, aku bantu, asal enggak diburu-buru saja," ucapnya.
Oleh petugas pengantar barang
yang tiap hari
menyambangi
kediamannya, Marylies sempat disangka penggila belanja. "Ya soalnya kan
tiap hari pasti ada saja barang yang diantar ke rumah. Dikiranya aku belanja di
online shop setiap hari padahal itu produk yang dikasih sama orang lain buat endorse,"
kata Marylies.
Mulai dari produk fashion busana muslimah terbaru hingga makanan
seperti pempek dan seblak juga pernah menjadi pilihan Marylies untuk dipromosikan
secara gratis."Alhamdulillah, sampai
sekarang sih belum pernah dengar pendapat miring . soal promosi gratisan ini. Orang-orang di sekeliling
aku malah senang, soalnya kan barangnya kalau dikumpulin banyak banget, jadi
mereka bilang kalau ada yang enggak aku pake, kasihlah ke mereka. Lumayan juga
karena aku
jadi
jarang beli baju," tuturnya riang. (Endah Asih/PR)
