Tuesday, May 19, 2015

Fashion Blogger Bandung



Gamis Tebaru
COBA ketikkan kalimat "fashion blogger Bandung" di mesin pencari Google. Dalam hitungan detik, aneka laman yang merujuk pada nama Marylies muncul sebagai directory. Dengan puluhan ribu pengikut (follower) di jejaring sosial Instagram, mojang Bandung yang satu ini tahu benar cara memanfaatkan celah di tengah hiruk pikuk media sosial yang kadang terasa absurd.

RABU (13/5/2015) siang, Marylies ditemui di sela sela kesibukannya mempersiapkan butik "keroyokan" bersama  empat temannya di kawasan Cigadung Raya Tengah, Kota Bandung.
Perempuan kelahiran Bandung, 15 Maret ini terlihat syar'i dengan dress wanita warna hitam rancangan tangnnya sendiri. Selain desainer. Marvlies adalah model. fashion stylist, specialist fashion blogger: "Semua yang dilakukan sekarang memang benar-benar merupakan passion yang aku simpan sejak dulu. Rasanya sangat menyenangkan bisa menjalani profesi yang disukai," ucap Marylies mengawali perbincangan. Lewat kalimat tersebut, ia seolah ingin menegaskan, jauh lebih enak melakoni hal yang dicintai ketimbang mencintai ha1 yang dilakoni. Bungsu dari lima bersaudara putri pasangan (alm.) Rusmana  dan Yayah Juariah (60) itu memiliki pembawaan yang menyenangkan. Waktu terus cepat bergulir saat berbincang dengan perempuan yang baru tiga bulan melepas masa lajang. Hobi yang suka mengobrol  yang dimilikinya sejak kecil. diakui Marvlies. menjadi awal dari semua hal baik yang tejadi kepadanya. Saat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, mojang yang akrab disapa Mary ini sudah senang tampil Dia selalu memiliki wrencanaan busana apa yang akan dikenakannva seminggu kedepan oleh beberapa temannya, Marielys dijadikan role model untuk urusan tarnpil trendy dengan hijab.

Marylies semakin menemukan ketertarikan dengan fashion saat bergabung dengan Hijabers Community. Saat salah satu agency di Jakarta menawarinya menjadi model muslimah, tentu saja ia menyanggupi. Pemilik tinggi badan 172 cm dan berat badan 50 kg itu melakoni profesi sebagai model lepas sambil menyelesaikan kuliah.

Oleh beberapa brand di berbagai kesempatan, Marylies juga dipercaya menanggung tugas sebagai fashion stylist. Dia bahkan dipercaya menjadi fashion stylist salah satu majalah fashion muslimah ibu kota. "Mungkin karena aku lima bersaudara dan semuanya perempuan, aku jadi sering melihat gaya berbusana kakak kakakku. Semua punya gaya masing-masing. Nah di situ aku jadi belajar mix and match," ujarnya. Dunia maya ' Ihwal perkenalan intens Marylies dengan dunia maya terjadi medio 2011, saat ia tergabung dalam Hijabers Community. Ia berkenalan dengan banyak anggota yang juga  merupakan fashion bloqqer.

Marylies kemudian memanfaatkan fasilitas gratis dari Blog spot ntuk memulai perjalanan blognya, saking semangatnya, ia sempat membuat beberapa blog yang memuat pemikirannya sod fashion. "Awalnya ya karena suka mengobrol. Daripada nulis geje (tidak jelas-red.), mending berbagi sod fashion. Dulu rajin banget nulis, sekarang mah waduh, mana sempat," ucap Marylies, diikuti tawa renyah. Untuk menyiasatinya, Marylies hijrah ke jejaring sosial Twitter. Lewat 140 karakter, ia memberikan aneka tips dan kultwit mengenai fashion. Di Twitter, banyak umpan balik yang didapatkan. Marylies membutuhkan banyak waktu untuk merespons semua pertanyaan yang dialamah kepadanya. Tentu saja, semua berbicara mengenai fashion.
Hingga tahun lalu, Marylies memiliki 3.567 follower. Namun, ia merasakan twitter sekarang tak lagi senyaman dulu. Dia merasa, banyak orang yang menjadikan Twitter sebagai ajang menumpahkan kekesalan. Moment asik yang biasanya didapatkan saat berbagi dan berselancar ditwitter pun tak lagi didapatkan.

Marylies tercatat terakhir memperbarui akun Twitternya satu tahun lalu. Jejaring sosial Facebook juga sempat ia gunakan. Kuota 5.000 teman sudah pasti tak cukup buatnya. Hingga terakhir ia menutup akun, masih ada ribuan kontak yang ingin menjadi teman.
Marylies kemudian hijrah ke Path dan Instagram, seperti anak muda kebanyakan. Akan tetapi, kini ia lebih memilih aktif di Instagram karena lebih simpel. Ia memiliki lebih dari 20.000 follower. Di Instagram, Marylies sering kali berbagi inspirasi penampilan yang dilabeli tagar OOTD (ouffit of the day), keseharian dengan teman-teman dan keluarga, hingga membantu aneka brand local untuk memasarkan produknya.

Lalu, adakah haters atau hal-hal yang mengganggu keasyikan Marylies dengan dunia maya?
Haters sih alhamdulillah enggak ada, dan jangan sampai ada. Kalau spam sih banyak banget, ganggu juga. Terus terkadang suka ada follower yang menacari celah kekurangan saya, tapi ya cuek aja. Soalnya, apa pun yang kita lakukan pasti ada saja kekurangannya di mata
orang lain," tutur penyuka sepatu dan majalah ini sambil tersenyum.

PROMOSI GERATIS
Bagi Marylies, media sosial tak hanya sebatas sarana untuk menumpahkan rasa senggang atau memanfaatkan waktu iseng. Dia juga tak menampik banyak element yang membuat media sosial menjadi kurang sehat. Marylies mengistilahkan itu dengan pengguna smartphone yang kurang smart.
"Kalau aku realistis saja, selain lebih ke visual diary aku, juga membantu orang yang ingin promosi produknya. Selama itu produk lokal, aku bantu, asal  enggak diburu-buru saja," ucapnya.
Oleh petugas pengantar barang yang tiap hari menyambangi kediamannya, Marylies sempat disangka penggila belanja. "Ya soalnya kan tiap hari pasti ada saja barang yang diantar ke rumah. Dikiranya aku belanja di online shop setiap hari padahal itu produk yang dikasih sama orang lain buat endorse," kata Marylies.

Mulai dari produk fashion busana muslimah terbaru hingga makanan seperti pempek dan seblak juga pernah menjadi pilihan Marylies untuk dipromosikan secara gratis."Alhamdulillah, sampai sekarang sih belum pernah dengar pendapat miring . soal promosi gratisan ini. Orang-orang di sekeliling aku malah senang, soalnya kan barangnya kalau dikumpulin banyak banget, jadi mereka bilang kalau ada yang enggak aku pake, kasihlah ke mereka. Lumayan juga karena aku jadi jarang beli baju," tuturnya riang. (Endah Asih/PR)



Monday, April 20, 2015

Toko Baju Online

Leny Puspadewi telah memulai usahanya sejak tahun 2005, namun hanya mulai serius menjalankan bisnis busana muslim di 2007. Leny terinspirasi pada pakaian muslim saat dia kesulitan mencari pakaian yang pas latihan aerobik. Tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan, Leny kemudian menciptakan gaya sendiri aerobik wanita Muslim kain, dengan desain sendiri. Leny mencari penjahit untuk membuat triko tersebut. Penjahit kemudian tertarik untuk memasarkan busana muslim aerobik yang dirancang oleh Leny. Beberapa orang tertarik memakainya dan ditawarkan.

Mulai dari waktu Leny desain pakaian / fashion pusat baju online dan memasarkan produk di antara teman-teman dan keluarga. Berikut beberapa Desain busana muslim di "Rumah lentik" Bisnis kreatif adalah bisnis yang membutuhkan kreativitas seperti ide asli, tapi tidak berhenti di sana. Bisnis kreatif juga membutuhkan hubungan antara kreativitas pencipta (Entrepreneur) di satu sisi dengan respon positif dari konsumen di sisi lain. Dalam hal ini usaha kecil-menengah dengan perempuan, mereka membangun bidang kreatif masing-masing (fashion, kerajinan, dan film) untuk menjadi unik dan menarik. Untuk Misalnya, Antik, dan Lenny membuat desain busana baru untuk muslim yang belum pernah terjadi sebelumnya, bergaya muslim fashion. Ariani berani untuk membuat beberapa film indie tentang realitas dengan kemasan unik yang sebagian besar movieplayers lainnya tidak akan melakukan.

Kemampuan wanita wirausaha dalam menemukan ide-ide pada penciptaan produk pusat toko baju online bandung, dan kemudian berkomunikasi mereka ide dengan pemasok, tim pendukung (crew), sampai produk
berhasil dibuat dan akhirnya diterima dengan baik (Respon positif) dari pelanggan, bahwa apa yang disebut "Bisnis kreatif". Tidak semua pengusaha memiliki ini.

Sumber: google.com